Membisu

“Mencintai dalam diam tak selamanya indah dan menyenangkan”—Inadyuta, 2018

Menikmati secangkir kopi di cafe adalah rutinitasku selama seminggu ini. Seminggu yang lalu, aku melihatnya dan semenjak saat itu aku rajin ke cafe ini. Entah siapa namanya, yang jelas dia cowok berkacamata, dia berhasil menyita perhatianku malam itu. Ketika dia mulai menyanyikan sebuah lagu lawas milik Bill Withers, Just The Two of Us menggunakan gitar yang mungkin menjadi gitar andalannya ketika manggung. Aku berharap malam ini aku akan melihatnya lagi di panggung cafe, dan ternyata dugaanku benar. Dia kembali. Ya, dia kembali. Menyanyikan lagu Best Part milik Daniel Caesar. Kali ini dia tidak menggunakan gitar namun grandpiano menjadi sasarannya untuk berirama. Aku hanya bisa bergumam dari kejauhan, bertanya-tanya siapa cowok multitalenta itu. Aku mencoba untuk menanyakan ke barista cafe keesokan harinya tentang cowok itu. Namun, dia sama sekali tidak mengetahui informasi tentang cowok itu. Tapi, cowok itu memang selalu manggung di cafe ini setiap seminggu sekali. Seminggu kemudian aku kembali ke cafe kesayanganku ini, dan saat itu juga aku menemukan identitasnya melalui korsa yang dia kenakan, tertulis ”Engineering”. Dan tertulis nama universitas dibawah tulisan itu. Hmm, ternyata dia satu kampus denganku. Aku semakin gencar untuk mencari tau banyak tentangnya. Mulai dari nama sampai lagu favoritnya. Bahkan sosial medianya. Hmm, mencintai dalam diam memang menyenangkan.

Sore itu aku memutuskan untuk ke cafe walaupun hari itu memang bukan jadwalku seperti biasanya. Tapi entah mengapa, hari itu aku bm caramel machiato.

“Mas, caramel machiato nya satu ya” kataku.

“Loh tumben kesini hari Rabu, biasanya Sabtu sore” balasnya.

Aku hanya tersenyum kemudian duduk di meja andalanku. Hari ini sangat melelahkan karena aku harus melakukan beberapa aktivitas di kampus. Aku menyeruput kopiku perlahan, tiba-tiba dia datang ke cafe untuk hari ini dan menghampiri beberapa teman-temannya tepat di meja seberangku. Sebisa mungkin aku bersikap tenang. Aku cukup mendengar beberapa percakapan mereka tentang akademis dan musik. Setelah menghabiskan kopiku aku segera bangkit dari tempat dudukku untuk bergegas pulang, aku tidak mau berlama-lama duduk disitu. Aku tidak bisa membendung perasaan senangku kali ini, aku bertemu dengannya secara tidak sengaja. Kurasa ini hanya sebuah kebetulan biasa.

Aku menyadari sesuatu bahwa besok aku harus ke Fakultas Teknik untuk bertemu dengan temanku. Aku berharap kali ini aku akan bertemu lagi dengan dia. Siang itu aku ke FT, aku duduk disebuah gazebo untuk menunggu temanku yang berjanji akan meminjamkan novel milik Pramudya Ananta kepadaku. Sembari menunggu aku membuka laptop untuk mengecek beberapa email dari temanku. Seorang cowok duduk menghampiriku di gazebo.

“Eh sorry, aku disini gapapa kan?” katanya mengagetkan. Aku mendongak dan tebak siapa yang mengajakku ngobrol hari ini,”Dia”.

“E ehh iya iya, gapapa kok” jawabku gugup. Hmm, memalukan. Aku mulai mengontrol emosiku dan irama detak jantungku. Haduhhhh bagaimana ini.

“Cewek teknik ya?,” tanyanya. “Heh anjir aku diajakin ngobrol” batinku.

“Bukan kok” tuturku.

Kami mengobrol cukup lama sampai temanku datang dengan novelnya. Ternyata cowok itu penggemaar berat Blink 182, The 1975, dan GnR. Namanya Ghavra Danendra. Anak arsitektur angkatan 2017. Dia mencintai seni, sangat mencintai. Musik dan beberapa lukisan aesthetic. Dia juga menyukai fotografi. Tak heran jika cowok semacam dia mencintai seni. Lihat saja instagramnya, penuh dengan keindahan seperti senyumnya hahahha terlihat klise namun berkesan kan wkwkwkwk. Dan kabar bahagianya ternyata selama ini dia menyadari keberadaanku di cafe itu setiap Sabtu malam. Tiba-tiba Ghavra menyodorkan ponselnya.

“Ketik ID LINE-mu” katanya.

“Hah?” kataku menganga,”Buat apa, Ghav?”

“Siapa tau nanti kalo aku nyasar di FISIPOL bisa minta bantuanmu,” katanya sembari tersenyum.

Semenjak pertemuan di gazebo teknik kami mulai akrab. Saat Ghavra manggung di cafe itu, dia memintaku untuk menontonnya. Saat Ghavra butuh bantuan untuk bahan skripsinya, dia juga memintaku untuk membantunya. Saat Ghavra butuh teman makan atau teman pergi jalan-jalan dia selalu memintaku untuk ikut dengannya. Dan tidak bisa dipungkiri aku mencintainya secara diam-diam selama ini. Dan bodohnya Ghavra tidak menyadarinya. Kami berteman cukup lama, hingga akhirnya Ghavra memutuskan untuk melanjutkan studi S2 nya ke London dan menemukan tambatan hatinya disana. Rasa cintaku perlahan memulai memudar menerima keadaan bahwa tak selamanya mencintai dalam diam itu indah dan menyenangkan. Ada saatnya kamu akan menyerah kepada keadaan, sepertiku saat ini.  Kalau kamu memang benar-benar mencintainya kamu harus berani mengatakannya, apapun konsekuensinya: diacuhkan atau bahkan dibalas perasaanya. Memang tidak mudah, tapi setidaknya kamu sudah mencoba untuk mengatakan yang sebenarnya daripada kamu akan menyesal di kemudian hari, sepertiku saat ini, lagi lagi dan lagi.

Advertisements

Random Talk #1

Kau dan aku bagaikan sendok dan garpu yang saling melengkapi di segala macam situasi. Kau dan aku bagaikan kaki dan sepatu yang kemana-mana berdua tanpa ada yang menghalangi. Tapi apakah semua itu cukup untuk membuktikan rasa cinta yang kita miliki?

Aku berpikir sejenak, bagaimana dengan mereka yang saling mencintai tetap tidak bersama dan mereka yang tidak saling mencintai namun bersama?

Lalu apa kabar dengan kita?

Apakah kita termasuk golongan orang-orang beruntung di muka bumi ini?

Haruskah kita bersyukur dengan semua apa yang telah kita miliki termasuk bersyukur telah memilkimu walaupun belum seutuhnya. Ya, belum seutuhnya yang bisa kapan saja diambil orang, lenyap, dan menghilang tanpa kabar lalu meninggalkan sejuta kenangan manis di dalamnya. Hehehe

Jadi, bagaimana? Pantaskah aku untuk tetap bersyukur?

Bersyukur memilikimu hari ini, iya hari ini. Gatau kalo besok heheheeeuuu:’)

The New Beginning

Honestly, dedicated this blog for myself haha 🙂

Bermula dari suka berkhayal dan baca buku akhirnya aku suka banget sama yang namanya tulis menulis ya ga banget-banget sih tapi nyaman aja. Gatau kenapa lega aja kalau udah menuangkan seluruh pikiran ke dalam bentuk tulisan, rasanya kayak curhat sama orang tapi bedanya ini ga ditangggepin*kasian bener gue*. Aku bisa ngungkapin apa aja disini tanpa harus mikir tanda baca titik koma yang bener haha dan yang terpenting tanpa harus dimarahin guru bahasa Indonesia:p maapin nanad Pak Trijoto (guru bhs Indonesia kesayangan acuu).

Dulu suka banget bikin cerita cinta di Wattpad. Berkhayal tingkat dewa jadi seorang cewek beruntung yang dapet cowok super ganteng. Mostly, ceritanya emang tentang romance sih hehehe tapi lama kelamaan aku bosen aja sama kegiatan tulis menulis cerita cinta yang monoton itu hingga akhirnya aku memutuskan untuk ga ngelanjutin ceritaku di Wattpad tapi disini. Lah sama aja(?) wkwkw. Tapi, buat kalian yang mau baca boleh aja. Ini link nya  https://www.wattpad.com/user/perfectocals 

Fyi, itu aku nulisnya waktu masih SMP yaa hehe. Jadi,kesannya superalay. Ngebayangin kehidupan seorang remaja SMA dengan kisah cinta yang kata orang lagi demen-demennya cinte wkwk. Yang katanya masa paling indah waktu SMA. Masanya mulai berani pacaran sambil pegangan tangan. Highschool sweetheart, katanya WKWKWK. Tapi, setelah ngejalanin kehidupan semasa SMA. Ekspetasi tidak sebanding dengan realita hahaha. Aku bukan cewek beruntung yang dapet cowok superganteng kayak cerita bikinanku di Wattpad hahahaha ngakak sih kalau endingnya begini wkwk. Skip aja soal ekspetasi vs realita emang kadang bikin gemes.

 

Dan untuk kesekian kalinya aku bikin blog, sampai lupa ini blog keberapa yang aku bikin. Doain semoga konsistennya nulisnya yaa good people<3

Sampai jumpa di story berikutnya! Semoga sukaaaaa xoxo